penyakit layu pada tanaman jahe gajah
ARTIKEL
Pengendalian Terpadu Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum) pada Tanaman
Jahe Gajah (Zingiberceace officinale)
Disusun Oleh :
Kelompok 4
Yuni Aulia Agustin (21701031078)
Nada Kutsuma Vacha (21701031084)
Alan Dwi Setiawan (21701031072)
Gabrilla Fergiawan Listianto (21701031081)
Agung Dwi Arnanto (21701031087)
Mahmud Fajar Priyanto (21701031075)
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2018
I.
PENDAHULUAN
Tanaman jahe (Zingiber officinale Rosc.) sudah sejak lama
dikenal di Indonesia karena kegunaannya sebagai rempah dan bahan obat-obatan
tradisional. Selain itu, jahe juga termasuk komoditas eksport dalam sembilan
macam rempah yang diperdagangkan di dunia (Suratman et al., 1987). Jahe dapat diekspor dalam bentuk segar, kering,
minyak jahe, atau bentuk lainnya ke Jepang, Taiwan Kore, Timur Tengah dan Eropa
(Santosa, 1990). Konsumen utama jahe dalam negeri adalah perusahaan jamu,
sepertinya Nyonya Meneer, Air Mancur, Jamu Jago, Sido Muncul, perusahaan
manisan jahe dan sebagainya (Anonimous, 1988). Usaha pertanaman jahe gajah
sangat menguntungkan (Santosa, 1990). Sebagai contoh petani di Desa Biaung,
Tabanan pada tahun 1999 dengan areal seluas 3000 M2 ditanami jahe
gajah dalam waktu 9 bulan (umur panen tua) dapat menghasilkan jahe dengan harga
jual Rp. 9.000.000,.- sedangkan biaya produksi hanya Rp. 1.200.000,- (Sukanaya et al., 2000)
Sejak tahun 1994, para petani jahe menghadapi masalah
penyakit layu. Dari hasil identifikasi yang dilakukan oleh tim peneliti dari
jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UNUD, diketahui
penyebabnya adalah bakteri Ralstonia
solanacearum dan disekitar akar tanaman juga dijumpai adanya nematoda yang
diduga membantu bakteri menyerang tanaman jahe gajah (Sukanaya et al., 2000). Pada umumnya penyakit ini
merusak tanaman yang berumur 3 – 4 bulan (Semangun, 1989). Berbagai cara
pengendalian penyakit layu dilakukan oleh petani, namun hingga saat ini, petani
mengharapkan adanya suatu teknologi pengendalian penyakit layu agar petani
tertarik untuk membudidayakan tanaman jahe yang selama ini terhenti akibat
penyakit layu.
Layu bakteri merupakan salah satu penyakit yang sangat
merusak pada tanaman jahe. Penyakit tersebut sering mengakibatkan kehilangan
hasil rimpang jahe sampai 90%, sehingga petani jahe sangat dirugikan. Penyakit
layu pada tanaman jahe pertama kali dilaporkan oleh Orian pada tahun 1953 di
negara Mauritania. Penyakit tersebut dilaporkan juga terjadi di beberapa negara
lain terutama di daerah Humid Tropis dan Sub Tropis seperti di Cina, Filiphina,
Hawai, India, Indonesia, Malaysia, dan Thailand (Hayward, 1986). Di Indonesia
penyakit layu jahe pertama kali dilaporkan pada tahun 1971 di daerah Kuningan,
Jawa Barat dan menyebar di daerah lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jambi,
Lampung Bengkulu, dan Sumatera Utara (Asman et
al., 1991).
Penyakit layu mudah dan cepat sekali tersebar. Penyebaran
di dalam kebun dapat terjadi melalui tanah, akar, air, sisa sisa tanaman sakit,
alat alat pertanian, hewan, dan pekerja di lapangan. Penyebaran jarak jauh
terutama terjadi melalui penanaman benih yang berupa rimpang jahe yang telah
terinfeksi bakteri yang pada saat ditanam rimpangnya kelihatan sehat (infeksi
laten).
II.
HASIL
PENELITIAN YANG TELAH DILAKUKAN
Hasil
penelitian yang telah dilakukan (Sudana dan Rohani, 1992) menyatakan bahwa :
Pemberian
(kascing + Mikorhiza + Abu dapur) merupakan pengendalian terpadu terbaik untuk
penyakit layu jahe gajah, perlakuan ini menghasilkan intensitas serangan
patogen, jumlah anakan layu dan jumlah rumpun layu terkecil dan berbeda nyata
dengan perlakuan lainnya. Menurut Rukman (2000), abu dapur atau abu sekam yang
diberikan pada tanaman jahe dapat menekan perkembangan penyakit layu jahe
sampai 33%, abu dapur ini menyediakan unsur P dan K yang cukup sehingga sel
tanaman menjadi kuat (Rukmana, 2000), sedangkan mikhoriza selain membantu
penyerapan hara, juga mampu merangsang akar tanaman membentuk fitoaleksin untuk
menghambat patogen (Hasanudin, 1990). Menurut sPalungkun (1999), Kascing
merupakan kompos yang dihasilkan oleh cacing.
Apabila usaha pencegahan sudah
dilakukan namun penyakit masih timbul di lapangan, maka perlu dilakukan
pengendalian yang sifatnya menekan perkembangan penyakit serta mencegah
penyebaran penyakit yang telah ada di lapangan. Pengendalian penyakit layu jahe
dapat dilakukan dengan cara – cara berikut :
Deteksi
dan Pengendalian Penyakit Layu Bakteri Tanaman Jahe
Pedoman Teknis Teknologi Tanaman Rempah dan Obat, 2012
yang baik. Apabila ada areal yang terinfeksi sebaiknya dibuat selokan yang
membatasi dengan areal yang masih sehat untuk mencegah penularan penyakit
melalui akar, tanah, dan air. Untuk mencegah masuknya patogen ke daerah yang
masih sehat, maka semua pekerjaan di kebun yang dilakukan baik oleh manusia
maupun hewan sebaiknya dimulai dari daerah yang masih sehat selanjutnya
berjalan ke arah daerah yang sudah terinfeksi. Demikian juga alat – alat
pertanian yang akan digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum dan
setelah digunakan.
Pengendalian Penyakit Layu Bakteri
Apabila usaha pencegahan sudah dilakukan namun penyakit
masih timbul di lapangan, maka perlu dilakukan pengendalian yang sifatnya
menekan perkembangan penyakit serta mencegah penyebaran penyakit yang telah ada
di lapangan. Pengendalian penyakit layu jahe dapat dilakukan dengan cara – cara
sebagai berikut :
Sanitasi dan Eradikasi
Sanitasi harus dilakukan secara ketat dari awal. Sanitasi
tidak efektif apabila dilakukan pada saat serangan sudah meluas dan parah.
Sanitasi dapat dilakukan dengan mencabut tanaman jahe yang terserang di lapang
dan segera dimusnahkan dengan cara dibakar. Selanjutnya lubang bekas tanaman
yang sakit disiram dengan antibiotik atau ditaburi dengan kapur. Alat – alat
pertanian yang digunakan untuk memotong tanaman sakit perlu dibersihkan atau
disterilkan dengan alkhohol 70% atau dipanaskan dengan api sebelum digunakan
untuk memotong tanaman lain yang masih sehat.
Pengendalian Secara Kultur Teknis
Pupuk kandang yang diperkaya dengan mikroba dekomposer
juga dapat digunakan sebagai cara alternatif untuk mengendalikan penyakit layu
bakteri pada tanaman jahe. Menurut Hartati dkk.
(2009), pemberian pupuk hayati yang berupa pupuk kandang yang diperkaya dengan
mikroba dekomposer (Bacillus
pantotkenticus) dan (Trichoderma
lactae) dapat mengurangi intesitas serangan penyakit sebesar 54%
dibandingkan dengan pemberian pupuk kandang biasa.
Sri
Yuni Hartati (Pedoman Teknis Teknologi Tanaman Rempah dan Obat, 2012)
R. solanacearum merupakan patogen tular tanah dan mampu bertahan hidup di
dalam tanah dalam jangka waktu yang lam. Oleh karena itu penanaman secara
tumpang sari atau rotasi akan membantu dalam mengurangi populasi bakteri
patogennya di dalam tanah. Rotasi dapat dilakukan dengan tanaman jagung,
kedelai, kapas, dan kacang panjang. R.
Solanacearum juga mempunyai kisaran tanaman inang yang sangat luas termasuk
beberapa jenis gulma, sehingga dianjurkan untuk melakukan penyiangan dan
pengendalian gulma secara rutin.
Pengendalian dengan Pestisida
Pengendalian penyakit layu jahe
dapat dilakukan dengan pestisida kimia sintetik maupun nabati. Hasil beberapa
penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri merupakan bahan alami dari tanaman
berpotensi untuk digunakan sebagai pestisida nabati.
Menurut
Hartati dkk. (1993), minyak cengkeh
dan serai wangi dapat menghambat pertumbuhan R.solanacearum secara in vitro, pada uji in vitro minyak daun
cengkeh lebih efektif terhadap R.solanacearum
dibandingkan dengan komponen utamanya yaitu eugenol dan serbuk cengkeh.
(Supriadi
dkk. 2008) melaporkan bahwa minyak
kayu manis, cengkeh, serai wangi, serai dapur, nilam, jahe, kunyit, laos, temu
lawak, dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri R.solanacearum secara in vitro. Sementara hasil dari percobaan pot
menunjukkan bahwa formula EC (6%) campuran dari minyak cengkeh dan kayu manis
dapat menekan perkembangan penyakit layu pada jahe sampai 65% sampai pada umur
tanaman 7 bulan. Sedang pengujian di lapangan menunjukkan bahwa formula EC 2%
minyak cengkeh dan kayu manis mampu menekan perkembangan penyakit dengan
efikasi sebesar 35% sampai pada umur tanaman 7 bulan (Hartati dkk. 2009). Penggunaan pestisida untuk
mengendalikan penyakit layu yang disebabkan oleh R.solanacearum diyakini
menjadi efektif tapi mahal dan mencemari. Di sebaliknya, penggunaan agen
biologis melawan R.solanacearum telah dilaporkan lebih efektif pada tomat,
kentang, cabai dan tembakau (Hersanti et al,. 2009; Heru, 2006; Nurjanani,
2011).
Pengendalian Secara Biologi
Pengendalian secara biologi merupakan salah satu komponen
untuk managemen penyakit layu jahe. Cara tersebut dapat digunakan sebagai
pelengkap dalam pengendalian secara kultur teknis. Pengendalian secara biologi
untuk penyakit layu bakteri dapat dilakukan dengan menggunakan agensia hayati
seperti bakteri antagonis misalnya Bacillus
sp., Pseudomonas fluorescens, dan
bakteri indofit yang dapat menginduksi ketahanan tanaman jahe. (Hartati dkk., 2009).
Penerapan
zat biologis gabungan dalam mengendalikan penyakit layu bakteri yang disebabkan
oleh R.solanacearum adalah pendekatan
yang lebih baik secara biologis kontrol. Kombinasi mikroba antagonis adalah
diharapkan bisa meningkatkan potensi agen biologis ke tingkat perlindungan yang
lebih baik (Guetsky et al., 2001).
Pengendalian Secara Terpadu
Penyakit layu bakteri sangat sulit dikendalikan. Hal ini
disebabkan karena sifat Deteksi dan Pengendalian Penyakit Layu Bakteri Tanaman
Jahe Pedoman Teknis Teknologi Tanaman Rempah dan Obat, 2012 sifat ekobiologi
dari R.soalacearum yang sangat
komplek. Sampai saat ini belum ada satu cara yang dapat mengendalikan penyakit
layu secara tuntas. Oleh karena untuk mencegah timbulnya penyakit perlu
dilakukan pengendalian secara terpadu. Pengendalian secara terpadu harus
dilakukan sesuai dengan jenis tanamannya, jenis patogen, dan pengetahuan
mengenai cara bertahan hidup dan penyebaran(ekobiologi) patogennya (Hayward,
1985). Untuk tanaman yang menghasilkan umbi seperti kentang, penggunaan
varietas tahan sangat diperlukan dengan pengetahuan mengenai faktor – faktor yang
berperan terhadap potensi inokulum, sisa – sisa tanaman sakit,populasi patogen
ditanah, dan asosiasinya dengan tanaman inang alternatif.
DAFTAR PUSTAKA
Dharmasusila, K. 1996. Pengaruh Inokulasi Mikorhiza
Vesikular-Arbuskular dan Takaran Pupuk
P dan K Terhadap Beberapa Sifat Kimia Tanah dan Hasil Kedele. Lap. Penel. FP. UNUD. 29 hlm. (Tidak
dipublikasi).
Sukanaya, W ., M. Sudana & M.G. Adiputra, 2000.
Identifikasi penyebab penyakit layu jahe gajah. Laporan penelitian kerjasama Fak. Pertanian UNUD dengan Dinas
Perkebunan Kab. Tabanan (Tidak dipublikasi). jhpttropika.fp.unila.ac.id/index.php/jhpttropika/article/view/149 (diakses tanggal 14 januari 2018)
Hasanudin. 1990. Mikorizha mengefisiensikan penggunaan
pupuk dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit. Trubus 250: 112-118
Palungkun, R. 1999. Sukses
Berternak Cacing Tanah Lumbricus rubellus. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rukmana, R. 2000. Usaha
Tani Jahe . Kanisius. Yogyakarta.
Annonim 1989. Budidaya Jahe dan Pemasarannya. Departemen
Pertanian Indonesia.
Syukur. C. 2001. Agar
Jahe Berproduksi Tinggi: Cegah layu bakteri dan pelihara secara intensif. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Supratoyo, 1997. Macam
– macam Spesies dan Peranan Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.) pada
pertanaman Tomat di DIY. Lembaga Penelitian UGM
Sudana, M & L.Rohani 1992. Isolasi Dan Karakteristik Pseudomonas Bakteriocinogenik yang
menghambat pertumbuhan Pseudomonas
solanacearum.Yogyakarta. PAU Bioteknologi UGM Hlm.82 – 96 dalam Prosiding
Seminar 1992. https://id.scribd.com/document/257355442/Penyakit-Layu-Bakteri-pada-Jahe (diakses tanggal 14 januari 2018)
Semangun, H . 1989. Penyakit
– penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta
Nurjajani. 2011. Kajian Pengendalian Penyakit Layu
Bakteri (Ralstonia solanacearum)
Menggunakan Agens Hayati pada Tanaman Tomat. Suara Perlindungan Tanaman
1(4):1-8

Komentar
Posting Komentar